Cerpen

Standard

LAKI-LAKI HEBAT

Namaku Sardi, akan keceritakan kepadamu kisah tentang seseorang. Marto namanya, dia adalah sahabatku,  walaupun usia kami berbeda jauh tapi kami dapat menjalin hubungan persahabatan dengan baik. Marto pernah bekerja sebagai pramuniaga di sebuah toko besar di ibu kota. Karena krisis tahun 1998 Marto terkena Pemutusan Hubungan Kerja(PHK) dan harus menganggur dan pulang ke kampung halaman. Di kampung Marto menjadi pekerja serabutan, mulai dari pekerja bangunan, kuli di sawah atau bekerja di tempat pak Tabri seorang pengusaha bambu membantu membuat pagar bambu demi mendapat penghasilan. Apapun bentuk pekerjaan akan dilakukan, penghasilannya paling besar hanya limapuluh ribu rupiah sehari.

Marto menikah dengan Anah seorang gadis cantik pujaan Marto. Meraka sudah lama pacaran dan akhirnya menikah untuk menghabiskan hidup bersama. Marto dan Anah dikaruniai anak perempuan yang sangat cantik mewarisi karakter ibunya. Selain itu badannya motok seperti  Marto. Dengan kelahiran anak pertama ini kehidupan Marto dan Anah sangat bahagia walaupun masih harus mengontrak sebuah rumah karena Marto belum dapat membangun rumah sendiri.

Bertahun-tahun berlalu dan sang buah hati Marto semakin besar dan sebentar lagi memasuki sekolah. Dengan penuh keperihatinan, Anah meminta kepada Marto untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita(TKW) di Timur Tengah dengan alasan membantu ekonomi keluarga. Marto pun menyadari kalau pendapatannya tidak akan cukup untuk menabung, yang kelak akan digunakan untuk mengkuliahkan anak atau membangun rumah. Kita tahu kalau kuliah di negeri ini masih harus menguras kantong para orang tua. Hanya orang yang bergaji diatas Upah Minimum Regional(UMR) yang berani mengkuliahkan putra-putri mereka. Hingga tiba waktunya Anah pergi meninggalkan keluarga dengan niat yang mulia. Selama 2.5 tahun kontrak kerja Anah di negeri orang dan harapan Marto setelah kembalinya Anah dapat membangun rumah kecil untuk tempat tinggal.

Selama ditinggal Anah, Marto tetap menjalani pekerjaan sebagai pekerja serabutan. Kadang orang tuaku juga mempekerjakannya dirumah kami untuk beberapa hari, sehingga aku dapat menemaninya dengan saling bertukar pikiran. Dalam bergaul Marto adalah orang yang suka humor. Jika aku bertanya “sekarang lagi kerja dimana?” dia menjawab “sedang cuti dinas” ,jika Marto tidak bekerja yang berlagak seperti seorang pewagai atau jika aku memberi baju bekas dia hanya bilang “lumayan buat dinas” maksudnya untuk kerja karena sebagai kuli bangunan Marto tidak perlu berpakaian bagus karena hanya akan terkena adonan semen, cat, dan noda-noda lainnya. Marto memang berbeda dengan para pemuda lannya dikampungku, bila istri menjadi TKI di negeri orang, sang suami tinggal di rumah mengurus anak-anaknya atau sekedar santai-santai di pos ronda pak RT yang difasilitasi warung yang menyerupai kafe dan lapangan bola pingpong demi mengisi hari-harinya dan hanya menunggu kiriman uang dari para istri mereka. Tapi tidak dengan Marto, dia pekerja keras, hasil kerjanya untuk membeli susu putrinya dan bertahan hidup agar tabungan dari kerja keras sang istri dapat digunakan untuk membangun rumah.

Suatu ketika, Mela bidadari kecil putri kesayangan Marto sakit yang tidak biasa, Mela harus dirawat di rumah sakit, bahkan Mela harus dilarikan ke rumah sakit besar karena penyakit Mela sudah gawat. Mela divonis mengidap deman berdarah dan jika tidak ditanagini dengan cepat nyawa Mela melayang. Butuh dua minggu rawat inap demi memulihkan kondisi Mela. Marto yang tak berdaya karena biaya rumah sakit yang juga mahal seperti biaya kuliah, Marto memutuskan untuk menghubungi sang istri agar mengirimkan sejumlah uang untuk biaya perawatan anak mereka. Mudah sekali menghabiskan enam juta rupiah di rumah sakit dan memang tidak ada pilihan lain, tabungan sang istri pun berkurang demi rasa sayang kepada sang buah hati.

Hari berganti hari hingga 2,5 tahun pun berlalu, kontrak kerja sang istri pun habis dan seharusnya sang istri sudah tiba di tanah air. Menurut kabar dari Anah kepulangannya diundur karena ada sedikit masalah. Marto pun mencoba tetap tenang dan berharap tidak terjadi apa-apa. Hari-hari pun dilalui Marto dengan rutinitas seperti biasa. Dikala dia bekerja dia menitipkan Mela kepada Winda adik Marto. Tetapi jika tidak ada pekerjaan, di habiskan waktu dirumah  merawat Mela dan mengerjakan pekerjaan rumah.

Hingga suatu hari Anah pun tiba dari negeri orang, mendengar kabar baik itu aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat Marto. Memang suka cita terpacar di raut muka Marto dan Mela begitu juga Anah tetapi ada yang tersirat dari suasana itu.

Dua bulan setelah kepulangan Anah aku bertemu Winda yang menyapaku “dari mana Sar?” begitu Winda memanggil namaku, “dari rumah Pak Aman” jawabku, Pak Aman adalah orang terpandang di kampung kami. Pada tahun 80an, dia sudah menduduki jabatan kepala wilayah di sebuah perusahaan BUMN dan sekarang ia sudah pensiun. Karir Pak Aman memang tidak biasa bagi masyarakat kampung kami, karena kampung kami sebagian besar penduduknya hanya petani dan pekerja serabutan seperti Marto dan sebagian lagi menganggur. Dari pertemuanku dengan Winda, Winda menyampaikan kabar bahwa Anah Melahirkan. Bertanya-tanya dalam hati, mana mungkin perempuan mengandung cukup dengan waktu 2 bulan. Winda pun menceritakan aib keluarga kakaknya. Saat bekerja di negeri orang, Anah diperkosa putra majikannya dan Anah pun hamil. Sebagai seorang sahabat sedih hati ini, tidak dapat dibayangkan bagaimana  perasaan Marto karena kejadian ini. Marto dititipi tuhan putra dari orang yang memperkosa istri tercintanya. Hati semua orang pasti tidak karu-karuan jika mendapati musibah seperti ini. Tetapi aku bangga dengan Marto dia orang yang sabar dan menerima dengan lapang dada. Dia ikhlas jika harus membesarkan anak yang tidak berdosa  ini. Fahri adalah nama yang diberikan untuk anak itu. Uang hasil kerja keras Anah selama diperantauan pun yang diharapkan dapat digunakan untuk membangun rumah pun nihil. Anah menghabiskan sebagian waktu di penjara selama di timur tengah karena kabur dari majikan dan uang simpanan hasil iya bekerja dihabiskan untuk aborsi yang sia-sia. Memang tidak berdaya putri-putri bangsa ini di negeri orang, hak-hak mereka tidak terbayarkan. Mimpi keluarga Marto untuk memiliki rumah sendiri pun hanya angan belaka, harapan yang dicita citakan tidak terwujud dan doa yang selama ini dipanjatkan pun belum terkabulkan. Keluarga Marto berusaha menjalani kehidupan secara normal, begitu juga dengan rutintas Marto ditengah gunjingan, hinaan, fitnah dan gossip yang tidak menyenangkan bagi Marto dan keluarga kecilnya dari masyarakat sekitar karena masyarakat kami masih menganggap tabu perempuan yang hamil bukan dengan suaminya.

Jikalau persitiwa ini meninpa anak perempuan, istri, ibu yang kita sayangi kuatkah kita seperti Marto menghadapi cobaan ini. Peristiwa ini dapat diambil hikmahnya bagi kita semua, peristiwa ini juga membuktikan kebenaran ajaran tuhan bahwa para istri itu tidak diwajibkan untuk menafkahi keluarga salah satu alasannya adalah peristiwa ini. Hal ini juga mematahkan kata kata bijak bahwa cinta itu tidak butuh materi tetapi pada kenyataanya materi itu diperlukan untuk membesarkan anak-anak, buah dari cinta itu sendiri. Peristiwa yang dialami Marto juga menyadarkan pada kita semua bahwa manusia hanya bisa menerima segala pemberian tuhan, walapun kita punya mimpi besar tetapi hidup ini tidak selalu seperti apa yang kita inginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s