tugas teori organisasi umum 2

Standard

MENGEMBANGKAN POTENSI DIRI

Kencangnya arus informasi, sebagai tanda globalisasi menuntut masyarakat terutama generasi muda untuk kreatif demi menghadapi tantangan kedepan. Kalau kita lihat generasi muda Indonesia sekarang sangat kreatif, karena mereka banyak melihat, banyak mendengar, banyak terinspirasi, dan rasa ingin tahu yang tak terbendung dan didukung informasi yang terbuka secara luas. Ini merupakan salah satu modal utama untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Walaupun begitu hal semacam ini bukan berarti tanpa hambatan, dan rintangan. Tidak sedikit anak bangsa kita terjebak dalam kehidupan yang tidak semestinya, sehingga bakat, minat, potensi, dll yang dimiliknya tidak dapat terasah, bahkan harus terpendam sehingga kreatifitas yang diharapkan tidak tercapai. Saya pun pernah mendengar komentar dari seorang juri di suatu ajang yang ditayangkan di salah satu tv swasta, yang intinya, “peserta-peserta yang ikut kompetisi memiliki bakat dan kemampuan yang luar biasa, semoga mereka tidak terjebak dalam kehidupan yang tidak mendukung potensi yang dimilikinya”.

Tak heran jika salah satu musisi Indonesia berpendapat yang intinya, “sekolah itu bukan merupakan suatu hal yang penting, tetapi belajar adalah hal yang wajib, dan belajar tidak mesti disekolah, tetapi dimana saja”.  Tidak seperti persepsi banyak orang memang, yang mengharuskan anak-anaknya bersekolah, dan mereka tidak begitu peduli jika disekolah anak-anaknya belajar atau membolos. Fenomena-fenomena yang biasa kita lihat, seperti anak-anak sekolah, lebih menyukai jika tidak diberi PR dari pada diberi PR, lebih menyukai jika gurunya sibuk meeting dari pada mengajar dikelas, dan girang bukan main jika diberi libur, suka membolos dll, merupakan cerminan suatu hal yang tidak sehati dengan mereka, yang bisa dikatakan bukan keinginan mereka.

Tetapi lain halnya jika mereka disuruh main bola dilapangan jam 12 siang, atau main band di studio sekolah,  dan mereka  secara sukarela mengantri demi mendapat giliran. Hal-hal semacam ini memang yang perlu sangat diperhatikan oleh pihak-pihak yang memiliki kebijakan, demi tersalurnya bakat mereka.

Bagi mereka yang memiliki kesempatan untuk menggali, mengolah, mengekpresikan potensi yang mereka miliki juga tidak luput dari hambatan, yang biasanya berupa factor B dan J, yaitu Bosen dan Jenuh, sehingga merasa pada titik stag yang seolah-olah tak bisa berkembang lagi. Hal-hal semacam ini memang membuat orang tersiksa dan mereka bisa banting stir kebidang yang lain.

Para orang tua harusnya dapat memprediksi bakat, minat, dan potensi anak-anaknya dan diharapkan dapat menfasilitasi anak-anaknya itu dan memberi motivasi agar mereka dapat berkembang dengan baik. Para orang tua juga tidak harus memaksakan kehendaknya, misalnya anaknya harus menjadi dokter padahal anaknya ingin jadi artis. Walaupun ada diantara anak-anak kita yang berani menyatakan keinginan mereka dan berontak demi apa yang diinginkan tersalurkan. Tetapi tidak sedikit yang hanya menurut dan rela mengubur keinginan yang tidak sejalan, demi membahagiakan dan menghormati keinginan orang tuanya.

Tidak sedikit orang-orang yang sukses dibidangnya harus mengorbankan sekolahnya, bukan karena masalah  ekonomi, tetapi lebih mengoptimalkan energy dan waktu yang dimilikinya untuk mengembangkan bakat yang dimiliki, sehingga mereka dapat mengekpresikan apa yang ada dibenaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s